Kelihatannya Anda belum melakukan login. Silahkan login atau registrasi jika Anda belum memiliki akun.
Cerita dari Keberangkatan ke Jepang
Berita - Seputar SMA 1 Lubuklinggau
  
Minggu, 12 Juli 2009 07:35

Kedisiplinan Penduduk Jepang, Inspirasi Bagiku

Fuji, JapanMasih ingat dengan keberangkatan dua orang duta budaya Kota Lubuklinggau ke Jepang beberapa waktu lalu. Selama 10 hari berada di Negeri Matahari terbit itu, kedisiplinan penduduk Jepang telah menjadi inspirasi bagi Marsudi, guru SMAN 1 Lubuklinggau yang menjadi salah satu peserta duta budaya Kota Lubuklinggau.

UNTUK menjadi seorang duta budaya ke luar negeri tentu tidaklah mudah. Apalagi berkunjung ke Jepang, negara yang pernah luluh lantak akibat dibombardir tentara Sekutu pada Perang Dunia II 1945 silam. Berawal dari ketidakpercayaan karena terpilih menjadi salah seorang duta budaya ke Negara Kaisar Akihito itu membuat Marsudi tercengang dengan kedisiplinan yang dimiliki penduduk Jepang.

“Saya sempat kaget melihat kebiasaan orang Jepang yang sangat jauh berbeda dari masyarakat kita. Mereka sangat disiplin waktu, kemudian memiliki motivasi kerja yang tinggi. Ditambah lagi kreativitas dan kejujuran yang dimiliki membuat negara tersebut maju pesat,” itulah ucapan pertama yang keluar dari bibir mungil Marsudi (40), salah seorang guru bidang studi Bahasa Inggris, sekaligus Waka Kurikulum di SMAN 1 Lubuklinggau, ketika diminta berbagi pengalamannya kepada Linggau Pos setelah 10 hari menjadi duta budaya ke Jepang.

Dikatakannya, penduduk Jepang memiliki karakter yang unik dibandingkan penduduk dibelahan dunia lainnya. Di antaranya memiliki kedisiplinan, motivasi kerja yang tinggi, kreatif dan jujur. Ditambah lagi, kolektifitas dalam bekerja. Jadi, kata dia, tidak ada kesenjangan sosial antara atasan dan bawahan dalam suatu perusahaan. Menurut Marsudi, hal inilah yang membuat Negara Jepang dapat bangkit setelah hancur di bom atom beberapa tahun silam.

Satu hal lagi, kata Marsudi, yang menjadikan Negara Jepang maju adalah penduduknya memiliki motto “Living to Work” (Hidup untuk bekerja). Karena itulah, kedisiplinan telah membuat mereka bisa menciptakan hasil karya di bidang teknologi, informasi, otomotif dan lain-lain.

Dia menambahkan, kinerja orang Jepang bisa diacungi jempol. Sebab, seluruh pekerjaan mereka terbilang efisien. Sebagai contoh, lanjut Marsudi, ketika peserta tengah melakukan perjalanan ke Stasiun Kereta Api di Tokyo tidak satupun petugas yang berjaga ditempat itu. Sebab, semuanya dikerjakan oleh teknik komputerisasi.

“Kami semua heran ketika melakukan perjalanan menggunakan Kereta Api di Tokyo, semuanya dilakukan dengan sistem elektronik. Tidak ada satupun tenaga kerja manusia yang berjaga di sana,” cerita ayah dari Muhammad Rifki (10) dan Qorira Dhea Ulha (5).

Masih kata Marsudi, dalam kesempatan tersebut peserta berkunjung ke berbagai tempat pusat teknologi dan pendidikan. Di antaranya, berkunjung ke pusat kebudayaan Jepang yaitu ke kuil terbesar di Jepang yang bernama Kuil Azakuza, kemudian Museum Edo di Tokyo. Untuk teknologi, berkunjung ke pusat pengolahan sampah ekoprontir yang berteknologi tinggi di Provinsi Hibaraki. Setelah itu, peserta juga berkunjung ke Pabrik susu Meiji di Hibaraki dan pusat pameran teknologi tinggi di Jepang (Tepia) di Tokyo.

“Dan untuk tempat pusat pendidikan kami berkunjung ke SMA 1 Toriday di Hibaraki. Di sini kami banyak mendapatkan pengalaman di bidang pendidikan. Anak-anak di Jepang mempunyai keinginan yang kuat untuk maju. Salah satunya, setelah mereka duduk di kelas tiga SMA, oleh sang guru ditanya apakah dia ingin melanjutkan ke perguruan tinggi atau bekerja. Dan hal tersebut, berdampak terhadap mata pelajaran yang akan diberikan terhadap anak tersebut. Apabila mereka ingin bekerja, berarti porsi untuk mata pelajaran keahlian lebih diutamakan bagi mereka. Setelah itu, peran sekolah sangat penting dalam penyaluran ke dunia kerja mereka,” tutur Marsudi.

Dan yang selalu terngiang dalam ingatan Marsudi hingga saat ini adalah tingkat kecintaan penduduk Jepang terhadap lingkungannya sangat tinggi. Terbukti, tidak ditemukan “secuil” sampah pun yang tergeletak di berbagai tempat. Sebab, kata Marsudi, pemerintah Jepang telah menyediakan lima tempat sampah di pinggiran jalan Kota Tokyo.

“Saya sangat terkesan dengan tingkat kecintaan penduduk Jepang terhadap lingkungan mereka. Dimana, setelah mereka menghasilkan sampah, tidak akan dibuangnya sebelum menemukan tempat sampah. Lagi pula, tempat sampah mereka terdiri dari lima jenis yaitu khusus untuk sampah botol plastik, gelas, koran, sampah basah dan kertas,” terang pria yang ngefans club Manchester United dan Barcelona ini.
 
Dan tak kalah menarik perhatian Marsudi adalah tidak adanya kemacetan yang terjadi disepanjang jalan Kota Tokyo. Sebab, penduduk Jepang mayoritas menggunakan sepeda dan pejalan kaki. Ditambah lagi, dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi selalu dipegang teguh oleh penduduk Jepang. Ada pengalaman yang menggelitik Marsudi dan selalu menjadi ingatan baginya, yakni ketika dirinya sedang menyeberang jalan meskipun jalanan sepi dan tidak ada kendaraan satu pun sedangkan lampu lalu lintas menyala merah namun penduduknya tidak ada yang berani menyeberang jalan.

“Menurut mereka, apabila mereka melakukan pelanggaran itu merupakan suatu hal yang memalukan. Dan ternyata, penduduk Jepang sangat memiliki budaya malu yang sangat tinggi,” cerita pria kelahiran Belitang Kabupaten OKUT, 6 Oktober 1969.

Lantas, bisakah hal tersebut diterapkan di Kota Lubuklinggau? Marsudi mengaku, kalau untuk dilakukan di Kota Lubuklinggau sepertinya agak sulit terlaksana. Namun, dirinya optimis untuk menerapkan hal tersebut dikeluarganya dan di sekolahnya.

“Saya optimis hal tersebut bisa diterapkan di keluarga saya terlebih dahulu. Kemudian, saya akan menerapkannya di SMAN 1 Lubuklinggau. Paling tidak masalah disiplin dan kerja keras serta kebersihan lingkungan,” pungkasnya.(*) (Hetty Linggau Pos)